Pulang kerumah
Thursday, June 15, 2006

Hari Senin, 11 Juli 2005 akhirnya Tara pulang juga nih kerumah. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit Tara digendong oma. Mama tiap sebentar liat-liat kekursi belakang, nggak tahan pengen gendong Tara. Sepanjang perjalanan Tara tidur terus. Akhirnya sampai juga dirumah. Yang pertama dilakukan adalah menggunting hospital bracelet yang masih menempel di tangan Tara. Duuhh, nempelinnya kok pas banget ya, sampe susah nih nyopotnya.

Untuk sementara waktu kita tinggal di rumah mama Pingkan, hanya beberapa langkah sih dari rumah kita. Kita harus pindah sementara berhubung rumahnya sedang direnovasi, mau bikin kamar untuk Tara. Hari pertama dirumah semuanya sibuk. Beres-beresin box tempat tidur Tara, pindah-pindahin barang dari rumah lama, tapi nggak usah kuatir, Tara selalu ada yang nemenin. Kalau nggak mama ya oma.

Tara sekali nggak rewel dan baik banget. Ya dong, kan kasian mama dan papa kalau rewel ya Tar. Beberapa hari setelah pulang kerumah kami berencana mau ke Carrefour karena persediaan makan sudah menipis. Nah lo, trus aku pengen ngajak Tara, tapi nggak boleh sama oma karena menurut oma puser Tara belum puput. Ternyata nggak lama setelah itu puser Tara puput juga, semua kaget karena ternyata prosesnya nggak makan waktu lama. Hanya seminggu sudah lepas dan kering. Cihuyyyy, berarti Tara sudah bisa jalan-jalan sama mama dan papa.

Jadi deh Tara dibawa belanja ke Carrefour sama mama, papa dan oma. Tara dan oma nunggu di ruangan bayi sementara kami belanja. Kalau Tara haus oma telpon aku dan aku keruangan bayi untuk menyusui Tara dulu. Soalnya Tara kan minum ASI langsung, jadi kemana-mana harus ada mama. Duhh senengnya. Sementara om masih agak ngomel-ngomel karena menurut oma Tara masih terlalu kecil utuk dibawa-bawa, katanya belum 40 hari. Ya gimana dong oma, dirumah kan nggak ada siapa-siapa, jadi mama harus belanja sendiri dan Tara jadinya ikut juga. Nggak apa apalah..., yang penting kami semua menjaga Tara sebaik mungkin walaupun terpaksa sering dibawa pergi.

titien irvianty posted at 10:09 AM | 1 comments

Welcome aboard!
Wednesday, June 14, 2006

Ini wajah Tara beberapa jam setelah dia lahir. Bangun tidur aku langsung sms papa Roy, nanyain apakah dia sudah bangun atau belum. Papa Roy langsung telpon, dia terharu sekali pas aku bilang Tara sudah lahir. Nggak ada diskusi panjang soal pemberian nama. Papa Roy hanya tanya mau dikasih nama apa? Aku langsung bilang TARA! Kemudian papa menambahkan nama NUR dibelakangnya. Jadilah bayi mungil kami bernama TARA NUR IBRAHIM.

Cerita soal nama, dimasa-masa hamil, aku bagi tugas dengan papa Roy. Aku kebagian cari nama cewek, dia nama cowok. Tapi tiap kali ditanya udah ada ide apa belum dia selalu menjawab belum ada. Dan dalam proses pencarian nama, yang terlintas di kepalaku selalu nama cewek, kok susah amat sih nyari nama cowok? Sementara kalau papa Roy ditanya dia selalu jawabnya gini, "Wah Tien..., aku cuma ada nama-nama buat kuda!". Nyebelin nggak sih. Dan ternyata lahirnya memang cewek, kebetulan banget, mungkin sudah begitu jalannya ya.

Tara berasal dari bahasa India yang artinya bintang, Tara juga bisa berarti kemakmuran. Sedangkan Nur artinya cahaya. Kami berdua sangat yakin Tara merupakan cahaya bintang dalam keluarga kecil kami, dan kami yakin dia akan selalu menyinari kehidupan kami dengan cahaya indahnya.

Temen-temenku banyak yang datang kerumah sakit. Nina pagi-pagi udah nongol, sementara aku masih teler banget. Trus siangan ada Maga & Tika, bawain aku tekwan, nyam nyam..., pas banget nih untuk perut yang lagi kelaparan. Langsung makan dengan lahapnya. Trus ada Ruth, Monique 'n Arie trus pak Tomsen sekeluarga. Mbak Sade juga sempet dateng. Wahhh aku seneng banget pokoknya. Ucapan selamat bertubi-tubi dari seluruh keluarga dan sahabat datang melalui sms dan telpon, aku terharu banget. Sabtu malam aku ditemenin sama Eki, duuhhh baiknya adikku ini. Mama 'n bunda teler karena semaleman nemenin aku diruang bersalin, jadi mereka pulang dan istirahat. Margo juga datang lihat dede Tara-nya lho.

Papa Roy pulang hari Minggu, langsung dari airport ke RSPI. Begitu sampai langsung bilang, "Aku mau lihat Tara dong!". Kita berdua langsung ke ruang bayi, aku minta ijin untuk bawa Tara kekamar dan bilang bahwa papa nya belum lihat Tara. Wahhh, papa Roy senang sekali. Kebahagiaan kami berdua nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata, dan hanya kami berdua yang dapat merasakannya. Kami pun tahu, Tara kecil dapat merasakan kebahagiaan kedua orang tuanya.

Sore itu papa Roy tanya, "mau makan apa Tien?" Aku langsung jawab, "martabak keju!" Ternyata aku kelaparan, martabak sekotak nyaris habis dimakan sendiri. Untung habis melahirkan, kalau nggak bisa naik berapa kilo tuh timbangan. Tapi aku sih udah nggak mikirin sama sekali yang namanya timbangan. Sebodo amat deh, yang penting tenaga harus cepat pulih.

Aku pulang dari rumah sakit hari Senin pagi, walaupun masih belum recovery 100% tapi kondisiku udah jauh lebih baik. Mama juga ikut jemput, dan dia semangat sekali pengen cepet-cepet gendong cucunya. Menjelang pulang mbak Helly datang. Waaahhh, seneng sekali deh banyak kunjungan dari temen-temen. Setelah diberi penjelasan singkat oleh suster mengenai cara-cara merawat bayi dirumah, akhirnya Tara diserah terimakan kepada kami.

titien irvianty posted at 5:46 PM | 0 comments

On the way...

"Kalau tiba-tiba kamu melahirkan pas aku lagi di KL gimana?", papa Roy sempet nanya pendapatku sebelum dia berangkat ke Kuala Lumpur untuk mengikuti Coaching Course selama seminggu. "Nggak lah, tenang aja. Ya kalau memang begitu kamu nggak harus ngapa-ngapain. Nggak usah pulang, selesein aja course-nya". Dan ternyata benar sekali. Tara memutuskan ingin keluar 2 minggu lebih cepat dari perkiraan dokter.

Pagi-pagi seperti biasa aku mandi dan siap-siap mau berangkat kekantor. Kok tiba-tiba ada flek ya? Aku langsung deg-degan karena merasa sehat-sehat aja dan nggak ada sesuatu yang salah pada diriku. Emergency call..., langsung telpon si bunda dan mama. Dia langsung suruh aku kerumah sakit, karena itu sudah tanda-tanda melahirkan. Dan aku tetepppp ngotot bilang bahwa aku nggak ngrasa sakit dan kekeuh meyakinkan dia bahwa dokter bilang masih 2 minggu lagi.

Tapi demi keselamatan semua pihak, aku mendengarkan pendapat para pendahulu, mereka-mereka yang sudah melahirkan. Langsung bangunin Eki, adikku yang bontot, karena dia yang nemenin aku selama papa Roy nggak ada. Eki langsung loncat pas aku bilang harus langsung kerumah sakit karena aku udah keluar flek. Sempet ngomel-ngomel juga karena menurut dia aku kebanyakan naik turun tangga, makanya keluar flek. Pagi itu aku dianterin Eki langsung ke RSPI, sempet pula mampir-mampir drop laundry, isi bensin..., dasar edan.

Sampai dirumah sakit dokter Sumanadi langsung bilang nggak boleh pulang, karena udah pembukaan 1 dan aku diminta langsung booking kamar. Nggak lama kemudian mama datang. Setelah urusan administrasi rumah sakit selesai dan aku sudah dapat kamar, mulai deh aku jalan-jalan keliling lantai 3 RSPI supaya kontraksinya lebih cepat. Telponan sama papa Roy dan bilang bahwa aku mungkin akan melahirkan dalam waktu dekat. Dia sempet nanya, mau ditemenin nggak? Wah, aku dengan mantapnya bilang, "nggak usah, yang penting ada dokternya". Untung ada mama, si bunda dan Eki yang setia nemenin disaat-saat yang amat sangat menyakitkan ini.

Aku baru merasakan sakit sekitar jam 3 sore, tapi belum heboh. Setiap diperiksa selalu dibilangin masih bukaan 2 bu, masih 3 bu, masih lama bu. Padahal aku udah mulai kesakitan, sementara suster-suster itu kayaknya dah kebal banget ya denger keluh kesah ibu-ibu yang mau melahirkan. Jadi mereka cuek aja. Aku masih bisa telponan dengan papa Roy dan masih bisa ngomong normal. Sekitar jam 7 malam ketuban-ku pecah, dan papa Roy telpon disaat sakit pinggangnya makin menjadi-jadi. Bete!

Aku memutuskan nggak mau ngomong karena emang nggak tahu lagi apa yang harus diomongin. Lha aku kesakitan kok, percuma deh ngomong-ngomong..., maap ya papa Roy. Badanku rasanya seperti dibelah-belah, sakittt banget. Mungkin ini rasanya kalau ketabrak kereta api, nggak karu-karuan. Waktu kok rasanya jalan lamaaaa banget. Duuuhhh, kapan nih pembukaannya komplit????

Mama dan bunda gantian nemenin aku, kasian mereka sih, tangannya habis aku remet-remet karena nahan sakit. Apa boleh buat, nggak ada yang lain, jadi mereka deh korbannya. Jam 11-an aku dipindahkan keruangan delivery. Aku pikir udah bentar lagi. Igghhh ternyata salah banget, masi lama ternyata bok. Sementara sakit nya makin tak tertahankan. Si bunda tetap memberikan semangat. Mama dah teler, Eki juga. Tapi mereka tetep setia nemenin aku.

Bolak balik dicek sama suster dan akhirnya dokterku datang juga. Akhirnya, aku merasa lebih tenang karena dokter Sumanadi sudah datang. Beliau ini akan berangkat keluar kota untuk mengikuti seminar lho hari Minggu, jadi bisa dibayangkan nggak kalau bayiku belum keluar pas dia dah harus pergi. Akhirnya setelah melewati jam-jam penuh rasa sakit, jam 2:06 pagi aku mendengarkan suara tangis bayi. Kata dokter beratnya 3,810 gram, wak waoooo gede amat, pantesan sakitnya minta ampun 'n keluarnya susah. Alhamdulillah..., aku bisa melahirkan normal. Mama bilang bayiku sehat, dia cek satu persatu jari-jarinya, semetara Tara kecil terus menangis. Tara langsung ditidurkan didada-ku. Duhhh, gak kebayang bayi mungil ini mendekam diperutku selama hampir 9 bulan. Nggak berhenti aku mengucap syukur pada Tuhan atas karunia yang amat indah ini.

Setelah itu aku langsung teler, rasanya tenagaku habis terkuras. Capek sekali. Mendadak aku merasa kedinginan, padahal sebelumnya mandi keringat. Trus langsung kelaparan. Kalau orang-orang suka bilang setelah melahirkan semua rasa sakit akan hilang dengan sendirinya begitu melihat bayi kita, aku kok nggak ngrasa begitu ya? Pokoknya tetep sakit deh..., aduhhh minta ampun. Tapi aku bersyukur dan sudah tidak memperdulikan rasa sakit itu. Yang penting bayiku sudah keluar, sehat dan tak kurang apapun. Alhamdulillah...

Beberapa kali coba telpon ke papa Roy, tapi ternyata hp-nya mati. Mungkin dia juga sudah kecapean nungguin. Sekitar jam 4:30 pagi aku dipindahkan ke recovery room, Tara ada didadaku, tertidur nyenyak sekali. Aduuhhh, nggak pengen berpisah rasanya. Nggak boleh ya Tara kecil ini tidur sama mamanya?

Ternyata setelah melewati proses melahirkan, aku benar-benar menyadari betapa hebatnya perjuangan seorang ibu. Jadi begini rasanya mama-ku berjuang sewaktu melahirkan aku dan adik-adikku. Luar biasa, nggak terlukiskan rasanya bisa melewati detik demi detik, menit demi menit hingga berganti jam. Nggak terbayangkan bagaimana aku bisa melewati masa-masa itu tanpa dukungan mama disampingku.

Life's defining moments - from our first breath to our greatest acocomplishments - all involve some struggle.
We are who we are today because we have already fought through to many victories, and we will keep winning as long as we keep fighting.

titien irvianty posted at 5:02 PM | 0 comments

Before....

Alhamdulillah…, atas segala kebesaran Tuhan, nggak lama setelah hari besar kami, iseng-iseng aku cerita sama Ade, bundanya Margo aku kok dah telat tapi nggak ngrasa apa-apa. Si bunda langsung beliin test pack dan suruh aku cek pagi-pagi. Keesokan hari, pagi-pagi aku langsung cek tapi merasa nggak yakin karena kok garisnya tipis banget yak? Ya udah deh..., emang nggak kali.

Beberapa hari kemudian aku beli lagi (ceritanya beli test pack yang agak mahalan, pengaruh nggak sih?) dan hasilnyaaaa..., two lines!!! Aku hamil. Yihaaa......

Senengnyaaa…., walaupun dalam hati masih deg-degan, campur aduk antara rasa percaya, nggak percaya, seneng, pokoknya nggak karuan deh. Seminggu kemudian langsung cek kedokter dan memang ternyata sudah ada Tara kecil didalam rahimku. Wah..... kabar gembira ini langsung cepat tersebar keseluruh keluarga dan sahabat-sahabat. Setelah itu seabrek-abrek nasehat mampir ketelinga kami. Orang hamil nggak boleh ini nggak boleh itu, harus ini harus itu. Walah..... kok aturannya banyak banget yak?

Minggu demi minggu berjalan tanpa hambatan, yang pasti sekarang aku sudah nggak diperbolehkan lagi nyetir mobil sendiri. Kemana-mana harus dianter atau naik taksi, padahal kalau mau jujur, aku sih belum merasakan perubahaan apa-apa secara fisik. Tapi ya demi si Tara kecil, aku rela deh sedikit lebih memanjakan diri sendiri. Ternyata enak juga ya jadi orang hamil, nggak heran jaman dulu nenek-nenek kita punya anak banyak, ya karena aku sendiri mengalaminya, hamil itu nikmat tiada tara.

Ini adalah USG Tara kecil yang masih berumur beberapa minggu dalam perutku. Aku nggak merasakan pusing atau mual yang heboh, nggak merepotkan siapa-siapa deh pokoknya. Nafsu makan juga normal-normal aja (ehem…, agak lebih sedikit seeehhh!!!) Seneng banget deh, soalnya aku sering banget lihat ibu-ibu hamil yang sampai harus bed rest selama masa hamil. Intinya selama hamil Tara semuanya berjalan smooth banget. Rasanya nggak ada hambatan. Kalaupun ada itu pun nggak terlalu mengganggu kegiatan sehari-hari, aku masih bisa bekerja normal.

Kemudian banyak orang bertanya, anaknya laki-laki atau perempuan? Udah USG belum? Kami berdua sepakat untuk tidak menanyakan jenis kelamin, dan wanti-wanti sama dr. Soemanadi kalau aku jangan dikasih tahu jenis kelaminnya. Biar aja jenis kelaminnya menjadi surprise buat semua orang. Kami jadi excited menebak-nebak laki-laki atau perempuan ya? Banyak orang mengatakan bayiku laki-laki karena bentuk perut ku dan juga bawaanku yang cuek bebek dan rada-rada kebo. Si bunda bilang perempuan karena menurut dia bentuk perutku beda sama bentuk perut dia waktu hamil Margo.

Anyway... kami menerima apa aja pemberian-Nya. Yang penting, kami berharap kelak bayi kami lahir sehat dan lancar, nggak kurang apapun. Karena dari awal udah niat mau melahirkan normal (cesar mahal skaleeee!!!) aku mulai giat dengan senam hamil, jalan pagi, yoga dan berenang (persis kayak kuda nil!). Heran..., pas hamil begini kok malah olahraganya lebih heboh.

titien irvianty posted at 4:18 PM | 0 comments

Copyright © The Ibrahim Family, 2006.
Specially designed by Sherly Nie @ Liverpool, 18 June 2006.